YANG PERTAMA KALI MEMBUKUKAN HADITS NABI
(Bahan Diskusi Ulumul Hadits Ke-4)
Yang pertama kali menaruh perhatian untuk membukukan hadits nabi adalah Muhammad bin Muslim bin Ubaidillah bin Syihab az-Zuhri al-Madani (rahimahullah)
Shalih bin Kaisan berkata, “Aku berkumpul dengan az-Zuhri ketika menuntut ilmu, lalu aku katakan, ‘Mari kita menuliskan sunnah-sunnah, lalu kami menulis khabar (berita) yang datang dari Nabi saw. Kemudian az-Zuhri mengatakan, ‘Mari kita tulis yang datang dari shahabat, karena ia termasuk sunnah juga’. Aku katakan, ‘Itu bukan sunnah, sehinga tidak perlu kita tulis’. Meski demikian az-Zuhri tetap menuliskan berita dari shahabat sedangkan aku tidak, akhirnya dia berhasil sedangkan aku gagal”. (Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d di dalam kitab ath-Thabaqat, dan Abu Nu’aim di dalam kitab al-Hilyah, dan juga al-Khathib di dalam kitab Taqyid al-Ilmu)
Ketika Khalifah Umar bin Abdul Aziz ra merasa khawatir akan merosot dan hilangnya ilmu karena meninggalnya para ulama’ maka ia mengutus kepada Abu Bakar bin Muhammad bin Amr bin Hazm, dan memerintahkan-nya untuk membukukan hadits Rasulullah saw seraya berkata; “Lihatlah, apa yang terjadi pada hadits Rasulullah saw atau sunnah, atau hadits dari ‘Amrah, (Amrah adalah, Amrah binti Abdurrahman bin Sa’d bin Zurarah al-Anshariyah, al-Madaniyah. Ia adalah murid A’isyah yang banyak meriwayatkan hadits darinya) maka tulislah karena aku khawatirkan merosotnya ilmu dan hilangnya ulama” (Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d dan al-Khathib di dalam Taqdim al-Ilmu, dan ad-Darimi menyebutkan di dalam kitab as-Sunan seperti itu)
أَقْوَالُ الْعُلَماَءِ فِى خَبَرِ الْـوَاحِدِ
أَقْوَالُ الْعُلَماَءِ فِى خَبَرِ الْـوَاحِدِ:
1- أَقْوَالُهُمْ بِأَنَّ خَبَرَ الْــوَاحِدِ لا يفيدُ إِلاَّ الظنّ
2- أَقْوَالُهُمْ فِي عَدَمِ الإِسْتِدْلاَلِ بخَبر الـواحِدِ في العقائِدِ
بقلـم مصطفى على المرتضى
الوجه الاول: كلمة التقديم
قد سألني بعضُ الإخوة فى الله عن خبر الواحد، تعريفه وأنواعه وما الفرق بين خبر الواحد وخبر المتواتر ومواقف العلماء الأجلاء عن إستدلال بخبر الواحد فى الأصول والفروع. وقد وجدت مفاهيم غير واضحة عن هذه المسألة المهمة فى كثير منهم.
فى هذه الكراسة الصغيرة (2) جمعت أقوال العلماء الأجلاء القاطبة من المذاهب الأربعة عند أهل السنة والجماعة — أعني الأحناف، والمالكية، والشافعية، والحنابلة— فى موضعين: أولهما، أقوالههم بأن خبر الواحد لا يفيد إلا الظن؛ وثانيهما، أقوالهم في عدم الإستدلال بخبر الواحد في العقائد. وقد نقلت لكم فى هذه الكراسة أيها الإخوة فى الله مواقف العلماء القاطبة الشاهرة من المذاهب الأربعة. وفى نهاية الموضوع أضافت أقوال بعض مشايخ الأمة فى هذا العصر تأكيدا وزيادة فى المنفعة.
1- أَقْوَالُهُمْ بِأَنَّ خَبَرَ الْــوَاحِدِ لا يفيدُ إِلاَّ الظنّ
2- أَقْوَالُهُمْ فِي عَدَمِ الإِسْتِدْلاَلِ بخَبر الـواحِدِ في العقائِدِ
بقلـم مصطفى على المرتضى
الوجه الاول: كلمة التقديم
قد سألني بعضُ الإخوة فى الله عن خبر الواحد، تعريفه وأنواعه وما الفرق بين خبر الواحد وخبر المتواتر ومواقف العلماء الأجلاء عن إستدلال بخبر الواحد فى الأصول والفروع. وقد وجدت مفاهيم غير واضحة عن هذه المسألة المهمة فى كثير منهم.
فى هذه الكراسة الصغيرة (2) جمعت أقوال العلماء الأجلاء القاطبة من المذاهب الأربعة عند أهل السنة والجماعة — أعني الأحناف، والمالكية، والشافعية، والحنابلة— فى موضعين: أولهما، أقوالههم بأن خبر الواحد لا يفيد إلا الظن؛ وثانيهما، أقوالهم في عدم الإستدلال بخبر الواحد في العقائد. وقد نقلت لكم فى هذه الكراسة أيها الإخوة فى الله مواقف العلماء القاطبة الشاهرة من المذاهب الأربعة. وفى نهاية الموضوع أضافت أقوال بعض مشايخ الأمة فى هذا العصر تأكيدا وزيادة فى المنفعة.
Hadist Menasihati Penguasa dengan sembunyi-sembunyi
Menasihati penguasa adalah sebuah kewajiban yang agung. Banyak hadist shahih yang menjelaskannya. Hadist-hadist tersebut menerangkan kewajiban menasihati penguasa dalam bentuk yang mutlak, baik dengan sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Diantaranya adalah,hadist dari Jabir ra, berkata:
عن النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم قال: "سيد الشهداء حمزة بن عبد المطلب، ورجل قام إلى إمام فأمره ونهاه فقتله". ( رواه الترمذي، والحاكم وقال: صحيح الاسناد )
"Dari Nabi saw, beliau bersabda: penghulu para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthalib dan laki-laki yang berdiri di hadapan penguasa kemudian dia memerintahkan dan melarangnya, kemudian penguasa tersebut membunuhnya (Hr Tirmidzi, dan al Hakim mengatakan sanadnya shahih)"
Sayangnya, ada beberapa orang bahkan kelompok yang yang mencoba menutup-nutupi kenyataan ini. Kemudian mereka mengemukakan wajibnya menasihati penguasa dengan sembunyi-sembunyi. Pandangan yang keliru ini dibantah secara panjang lebar oleh Syaikh Muhammad bin Abdullah al Masy’ary dalam kitab beliau Muhasabah al hukkam (menasihati penguasa). Diantara bantahan beliau adalah status hadist yang dijadikan landasan orang-orang atau kelompok salafy yang mewajibkan menasihati penguasa dengan sembunyi-sembunyi. Hadist tersebut adalah:
MENGAPA HARUS ADA TAKHRIJ HADITS?
Sebagai bagian dari disiplin ilmu hadits, takhrij hadits ditempatkan sebagai suatu hal yang sangat penting bagi siapapun yang tertarik meneliti hadits. Dan tidak sedikit orang bertanya, mengapa harus ada takhrij hadits? Apa urgensinya? Oleh karena itu penting bagi kita memahami latar belakang takhrij hadits.
Pertama, Hadits merupakan segala sesuatu yang disandarkan kepada Rasulullah saw, sang pembawa risalah, sehingga segala sesuatu itu sangat berpeluang dianggap bernilai risalah. Adanya kepastian bahwa memang betul hal tersebut berasal dari sang pembawa risalah tadi itulah yang menyebabkan Hadits perlu diteliti.
Tafsir Feminis Melawan Konsep Wahyu
Keunikan al-Qur'an sebagai wahyu, -baik dari sisi redaksi maupun maknanya-, mengharuskan umatnya untuk menempuh metodologi khusus yang sejalan dengan konsep wahyu dalam Islam, terlebih saat berinteraksi dengan kandungan ayat-ayatnya. Konsep wahyu dalam Islam secara selektif menolak segala metode penafsiran liar yang bertentangan dengan sifat dasar wahyu.
Dewasa ini, banyak usaha "membumikan" al-Qur'an melalui pendekatan tafsir jalanlain yang tidak pernah dikenal dalam khazanah keilmuan Islam. Al-Qur'an tidak lagi dipahami secara utuh dan menyeluruh, tetapi ditafsirkan secara parsial, lokal, kondisional dan temporal, demi menyesuaikan selera zaman dan penafsir. Bahkan seringkali bermunculan ide nyleneh yang memberi justifikasi keabsahan nilai-nilai modern dari Barat-Kristen dengan penafsiran ayat-ayat al-Qur'an. Di antara ide ini adalah memahami al-Qur'an dari sudut pandang gender (feminisme) yang dilakukan oleh Prof. Dr. Nashr Hamid Abu Zayd (liberal Mesir), Dr. Muhammad Syahrur (liberal Syiria), Prof. Dr. Nasaruddin Umar, yang saat ini menjabat Wakil Menteri Agama RI, dan lain-lain.
Bagi kalangan liberal, usaha menundukkan al-Qur'an dalam paham kesetaraan gender ala Barat, biasanya tidak menolak ayat-ayat al-Qur'an secara langsung. Tetapi dilakukan dengan memberikan penafsiran ayat-ayat melalui metode kritik sejarah. Metode kritik sejarah (historical criticism) adalah kritik sastera yang mengacu pada bukti sejarah atau berdasarkan konteks di mana sebuah karya ditulis, termasuk fakta-fakta tentang kehidupan pengarang/penulis serta kondisi-kondisi sejarah dan sosial saat itu. (Encyclopaedia Britannica, 1994-2001, Deluxe Edition CD-ROM.)
Langganan:
Postingan (Atom)